NARASI NUSANTARA NEWS

Independen Akurat Berimbang

Ibu Rumah Tangga Dianiaya Saat Membesuk, Polisi Tunggu Hasil Visum

Bekasi, 7 November 2025 — NN News

Niat hati ingin menjenguk teman yang sedang sakit, siapa sangka kunjungan seorang ibu rumah tangga asal Ciamis berakhir dengan luka dan trauma. Listra Sianipar (47), yang datang ke RS Primaya Bekasi Selatan, tak pernah membayangkan bahwa langkahnya di lorong rumah sakit justru akan membawanya pada peristiwa penganiayaan.

Malam itu, Listra hanya berniat sederhana — menjenguk teman yang tengah dirawat. Ia bahkan sudah menelpon lebih dulu untuk memastikan kondisi temannya. Dari seberang telepon, temannya sempat mengabarkan bahwa orang yang pernah berseteru dengannya di media sosial juga berada di rumah sakit tersebut.

Namun Listra menegaskan, ia datang bukan untuk mencari masalah.

“Saya datang untuk menjenguk, bukan untuk bertengkar,” tuturnya pelan saat ditemui awak media.

Baginya, rasa peduli pada teman yang sakit lebih besar daripada perselisihan di dunia maya. Tapi nasib berkata lain.

Kekerasan di Tempat yang Seharusnya Aman

Begitu tiba di rumah sakit, Listra justru diserang secara tiba-tiba. Ia mengaku dilempar barang, dipukul, bahkan rambutnya dijambak.

Serangan itu membuatnya mengalami luka di wajah, memar di tubuh, dan rambut rontok akibat tarikan keras.

“Semuanya begitu cepat. Saya kaget, tak sempat melindungi diri,” ujarnya.

Lebih ironis lagi, menurut kesaksian yang diterima korban, pelaku diduga sudah sempat mengatakan sebelumnya: “Kalau dia datang, sekalian saya hajar.”

Ucapan itu kini menjadi sorotan karena mengindikasikan adanya niat buruk yang terencana.

Proses Hukum dan Penantian Keadilan

Kasus ini telah resmi dilaporkan ke Polres Metro Bekasi Kota dengan dugaan penganiayaan ringan sesuai Pasal 351 KUHP.

Namun hingga kini, proses penyidikan masih menunggu hasil visum et repertum dari rumah sakit, yang diperkirakan selesai dalam beberapa hari.

Listra berharap aparat penegak hukum dapat menindaklanjuti laporan ini secara adil.

“Saya percaya hukum akan bicara, saya hanya ingin keadilan,” ucapnya.

Pelajaran dari Dunia Maya

Kasus ini menjadi pengingat bahwa konflik di media sosial tak berhenti di layar ponsel. Ketika ego dan emosi dibiarkan menguasai, dunia maya bisa menjelma menjadi bara yang meluas ke dunia nyata.

Rumah sakit, tempat orang mencari kesembuhan, seharusnya menjadi ruang aman — bukan arena kekerasan.

Masyarakat diharapkan bisa belajar menahan diri dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, bukan dengan tangan.red