Bekasi_Narasi Nusantara News
Di tengah pesatnya pertumbuhan Kota Bekasi sebagai kota metropolitan penyangga Ibu Kota, muncul ironi yang kian nyata. Kemajuan pembangunan yang menghadirkan pusat industri, kawasan hunian modern, serta mobilitas penduduk yang tinggi, justru beriringan dengan meningkatnya kerentanan sosial—terutama dalam isu penanggulangan HIV.
Dalam wawancara khusus, Direktur Yayasan Grapiks Bekasi, Daniel Ramadhan, mengungkapkan bahwa situasi HIV di Kota Bekasi saat ini berada pada fase yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Menurutnya, setiap tahun terjadi peningkatan signifikan, baik dari sisi jumlah kasus HIV maupun populasi berisiko tinggi.
“Setiap tahun kita melihat penambahan ratusan orang dalam kelompok populasi berisiko tinggi. Ini bukan angka kecil. Artinya, potensi penularan juga ikut meningkat jika tidak diimbangi dengan intervensi yang efektif,” ujar Daniel.
Ia menjelaskan, karakter Kota Bekasi sebagai kota metropolitan membawa kompleksitas tersendiri. Tingginya arus urbanisasi, banyaknya kawasan industri, serta berkembangnya sektor informal dan hiburan menciptakan interaksi sosial yang sangat dinamis, namun juga rentan terhadap berbagai persoalan kesehatan, termasuk HIV.
“Pembangunan kota itu seperti dua sisi mata pisau. Di satu sisi membawa kemajuan ekonomi, tetapi di sisi lain juga memperbesar risiko jika tidak diantisipasi dengan sistem perlindungan sosial yang memadai,” tambahnya.
Daniel juga menyoroti bahwa peningkatan populasi berisiko tinggi tidak selalu diiringi dengan kesiapan layanan dan program pencegahan yang memadai. Penjangkauan komunitas, edukasi, serta layanan tes HIV masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga kuatnya stigma di masyarakat.
Lebih mengkhawatirkan, kondisi ini diperparah oleh ketergantungan program HIV pada pendanaan eksternal yang kini mulai berkurang. Di sisi lain, dukungan anggaran dari pemerintah daerah belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
“Kita sedang menghadapi situasi yang cukup krusial. Kebutuhan meningkat, tetapi sumber daya justru terancam menurun. Jika tidak segera diantisipasi, dampaknya bisa sangat luas,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa penanggulangan HIV tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kesehatan semata. Diperlukan keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia usaha, hingga masyarakat sipil untuk membangun respons yang komprehensif.
“Ini bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga isu sosial, ekonomi, bahkan kemanusiaan. Kota sebesar Bekasi harus memiliki strategi yang solid dan berkelanjutan,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Daniel tetap melihat peluang untuk memperkuat respons daerah melalui kolaborasi yang lebih luas dan komitmen nyata dari para pemangku kepentingan.
“Masih ada waktu untuk memperbaiki arah. Namun harus dimulai sekarang, dengan langkah yang berani dan terukur,” pungkasnya.
Profil Singkat Narasumber:
Daniel Ramadhan merupakan Direktur Yayasan Grapiks Bekasi, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada upaya pencegahan dan penanggulangan HIV di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Selama lebih dari 20 tahun, ia aktif memimpin berbagai program penjangkauan populasi kunci, edukasi HIV, serta advokasi kebijakan di tingkat daerah.
Di bawah kepemimpinannya, Yayasan Grapiks Bekasi berperan dalam memperkuat jejaring layanan HIV, mendorong pengurangan stigma dan diskriminasi, serta membangun kolaborasi lintas sektor dalam penanganan HIV. Daniel dikenal sebagai salah satu penggerak isu HIV di Bekasi yang konsisten menyuarakan pentingnya pendekatan berbasis komunitas serta keberlanjutan program di tengah tantangan pendanaan dan kebijakan.(***)


More Stories
Diduga Bermasalah, Sertifikat Tanah Atas Nama Husni Tamrin Tuai Protes Keluarga
Pererat Kebersamaan di Bulan Ramadhan, GRIB Jaya PAC Jatiasih Gelar Santunan Anak Yatim dan Buka Puasa Bersama
PSHT RANTING KEMANG BAGI TAKJI TERHADAP PENGGUNA JALAN DAN WARGA